Translate

Tampilkan postingan dengan label sungai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sungai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Agustus 2012

lagi-lagi si bersih yang dulunya kotor


lagi-lagi admin posting tentang sungai yang dulunya berkeadaan sangat buruk tapi sekarang telah berubah menjadi si cantik.
Berikut beberapa sungai yang keadaannya sama, bahkan lebih parah dibandingkan sungai-sungai yang ada di Indonesia telah menjadi produktif berkat bantuan dari masyarakat dan pemerintah dalam berusaha bersama untuk membersihkan sungai-sungai tersebut.
  1. Sungai Cheonggyecheon, Seoul Korea Selatan
Sungai Cheonggyecheon adalah sungai dengan aliran kecil (water stream) kebanggaan masyarakat Seoul, yang mengalir sepanjang 10 km, dari barat ke timur, dan membelah kota Seoul. Cheonggyecheon di masa lalu adalah bantaran sungai yang digunakan sebagai sumber kehidupan masyarakat. Mereka mengambil air dan mencuci pakaian di sungai tersebut. Seiring dengan bertumbuhnya masyarakat dan dimulainya industrialisasi, populasi Seoul meningkat sehingga di bantaran kali tumbuh rumah-rumah kumuh. Munculnya wilayah komersial di kota Seoul menjadi masalah tersendiri dalam perencanaan urban, termasuk pengelolaan bantaran sungai.
Sejak tahun 1978, di atas sungai Cheonggyecheon itu dibangun jalan tol yang mengakibatkan kawasan sepanjang sungai semakin padat. Masyarakat membangun kehidupan di bawah jalan tol, kepadatan lalu lintas meningkat, dan asap knalpot menjadikan polusi di kota Seoul semakin parah.
Walikota Seoul, Lee Myung Bak, yang kemudian menjadi Presiden Seoul, yang berani melakukan proyek rekonstruksi bantaran sungai Cheonggyecheon. Langkah pertama yang dilakukan adalah membongkar jalan tol yang berdiri di atas sungai Cheonggyeon. Jalan tol tersebut diruntuhkan, dan kawasan sungai direvitalisasi. Tentu saja, proyek ini mendapat kritikan keras dari masyarakat Seoul yang sudah merasa nyaman dengan keberadaan jalan tol tersebut. Para pedagang kaki lima yang selama ini berjualan di sepanjang bantaran sungai, juga memprotes pembangunan tersebut. Belum lagi kritikan dari masyarakat urban yang menganggap proyek senilai 386 miliar Won itu sebagai proyek sia-sia. Tapi Lee Myung Bak jalan terus, dan proyekpun dimulai dari tahun 2003 hingga 2005. Sehingga saat ini sungai   Cheonggyecheon telah menjadi sarana rekreasi yang dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai negara dan menjadiincome yang besar bagi pemerintahannya.
  1. Sungai Murasaki, Kitakyushu, Jepang
Kota Kitakyushu berpenduduk sekitar 970.000 jiwa (2006). Setelah Perang Dunia Kedua, kota ini berkembang menjadi pusat industri. Industri yang terutama pada masa itu adalah industri baja. Pada tahun 60 sampai 70-an industri di Jepang begitu tinggi sehingga pertumbuhan ekonomi Jepang juga tinggi. Akan tetapi akibat dari pesatnya industry, limbah yang dibuang juga banyak dan mencemari lingkungan terutama sungai. Kota Kitakyushu dengan industrinya mencemari sungai Murasaki sedemikian hebat sehingga tidak satupun spesies ikan yang bisa ditemukan disungai itu pada tahun 70 an. 
 Air sungai berwarna kuning akibat pencemaran industri yang sangat berat. Dengan kondisi pencemaran itu masyarakat melakukan protes. Bersama-sama dengan pemerintah kota dan kalangan industri, warga kota Kitakyushu kemudian merencanakan rehabilitasi lingkungan dan sungai Murasaki. 
Pada tahun 1979 kondisi Sungai Murasaki tercemar berat, air sungai berwarna hitam. Pada saat itu air limbah rumah tangga di kota Kitakyushu belum diolah sehingga mencemari sungai. Demikian juga limbah industri masih banyak yang masuk ke sungai. Tetapi dengan kerja keras, kota Kitakyushu memperbaiki kualitas lingkungan hidup secara terpadu. Perbaikan pada semua aspek dilakukan untuk mengembalikan kondisi lingkungan kota menjadi asri. Secara bertahap air limbah diolah, sampai kini seluruh penduduk kota sudah dilayani dengan jaringan perpipaan air limbah dan kemudian diolah di lima instalasi pengolahan. Panjang kesluruhan jaringan perpipaan air limbah mencapai 4.000 kilometer (pipa besar dan kecil), dan air limbah yang diolah setiap harinya berjumlah kurang lebih 463.000 meter kubik.
Dengan pengolahan air limbah yang demikian kualitas air sungai semakin baik. Sungai Murasaki juga dibenahi secara fisik. Bangunan dan rumah yang semula berdiri membelakangi sungai dirubah menjadi menghadap sungai (river view). Dengan kerja keras selama lebih dari 20 tahun, sungai Murasaki kini menjadi sangat bersih, sehat dan disenangi warga kota. Tepian sungai dirancang beraneka bentuk mulai dari fasilitas air terjun buatan, tempat bermain untuk anak anak sampai menyediakan panggung di tengah sungai.
Korea dan Jepang telah menunjukan eksistensinya dimata dunia dengan melakukan kegiatan positif berupa revitalisasi sungai dan lingkungan. Saat ini mereka menunggu Indonesia sebagai satu kawasan yaitu Asia yang memiliki banyak sungai untuk menunjukan eksistensinya di mata dunia. Yakinlah kita ‘BISA’ untuk melakukannya. Masih banyak waktu untuk merubah sungai yang kita miliki menjadi sungai impian.
dikutip dari

Minggu, 26 Agustus 2012

Sungai Thames, si bersih yang dulunya sangat kotor

hmmm... dari tadi lagi iseng searching tentang sungai-sungai yang dulunya sangat kotor tapi sekarang jadi bersih dan bisa menjadi objek wisata. Berikut ulasan tentang sungai Thames di Inggris yang dulunya sungai yang sangat tercemar tetapi sekarang menjadi sungai terbersih di dunia.


Sungai Thames merupakan sungai yang mengawali sejarah Kota London berdiri. Kota ini dibangun oleh Kerajaan Romawi di abad 43 AD saat mereka menjajah wilayah Inggris, awalnya kota ini bernama Londonium. Sungai Thames berperan sangat penting terhadap penyediaan protein ikan bagi penduduk kota selain untuk air minum, pengairan lahan pertanian dan juga transportasi.
1336993390119558090
Dewasa ini, Sungai Thames lebih banyak dimanfaatkan sebagai daerah tujuan wisata. Para wisatawan yang berkunjung kesana tidak akan melewatkan tur mengarungi sungai dengan kapal. Walaupun harus merogoh “kocek” sekitar 15 Euro per trip. Tur ini akan membawa para turis melintasi beberapa ikon pariwisata terkenal di kota London, seperti Gedung Parlemen Kerajaan InggrisJembatan LondonLondon Eye(mirip seperti wahana kincir di Ancol) , Menara London, Gereja Katedral St Paul dan juga pasar ikan Billingsgate yang dulunya adalah pasar ikan terbesar di Inggris.
Namun dibalik keindahan sungai ini ternyata ada cerita buram yang mengisi sejarah mengalirnya sungai ini di Kota London. Membengkaknya populasi penduduk ditambah revolusi industri di Inggris, memperparah kondisi sungai. Sungai menjadi tempat penampungan limbah rumah  tangga (termasuk kotoran manusia) dan industri yang mengakibatkan sungai tercemar berat. Sejarah mencatat berbagai kejadian buruk yang menimpa Kota London akibat kondisi Sungai Thames yang sangat tercemar. Dimulai dari tahun 1932 ketika wabah kolera menjangkiti penduduk kota, tercatat ribuan orang meninggal akibat penyakit tersebut.
Kemudian ketika musim panas di tahun 1858 sungai ini mendapat julukan baru sebagai “the great stink” atau ‘the big stink” karena bau menyengat yang berasal dari sungai. Kandungan H2S yang sangat tinggi  mengakibatkan sungai berbau seperti telur busuk. Pada tahun 1878 sebuah kapal bermesin uap bernama Princess Alice yang membawa sekitar 600 orang penumpang terbalik di sungai ini akibat sebuah tabrakan. Seluruh penumpang diberitakan meninggal bukan karena tenggelam, namun karena menghirup racun yang terkandung di air sungai yang tercemar berat. Tahun 1957 sungai tersebut dideklarasikan sebagai sungai yang mati secara biologis, dimana kehidupan baik ikan maupun burung tidak ditemukan lagi disana. Hal tersebut diakibatkan oleh rendahnya kadar oksigen terlarut di air sungai serta racun yang terkandung dari polusi.
Sejak sungai ini dideklarasikan sebagai “The Great Stink” atau “Bau Besar”, pemerintah Kota London terlebih anggota parlemen berusaha keras mengatasi masalah polusi di Sungai Thames. Apalagi bau busuk dari sungai selalu tercium sampai ke ruangan para anggota parlemen. Sejak itu pemerintah mulai mencanangkan berbagai program pengelolaan sungai. Dimulai dengan mega proyek konservasi dan modernisasi sistem saluran pembuangan kotoran manusia, perbaikan sistem pembuangan limbah industri. Kemudian pemerintah membentuk berbagai otoritas yang bertugas untuk mengelola sungai, sumber air, banjir, polusi serta saluran pembuangan kotoran manusia.  Disamping itu berbagai peraturan diterbitkan guna mengatur segala kegiatan terkait pemanfaatan sungai dan pengendalian saluran pembuangan kotoran manusia.
Tercatat sejak tahun 1970-an berbagai program tersebut mulai memperlihatkan hasil yang sangat memuaskan. Ikan dan burung mulai kembali ke sungai yang menandai pencemaran di sungai sudah mulai berkurang. Kerja keras yang dilakukan dalam waktu yang cukup panjang ternyata dapat dirasakan oleh penduduk London saat ini. Mereka bisa hidup bangga berdampingan  dengan salah satu sungai terbersih di dunia. Tercatat sekitar 125 jenis ikan berenang di sungai ini termasuk ikan salmon dan trout, selain itu sekitar 400 spesies hewan tidak bertulang belakang hidup di lumpur, di tengah, dan tepian sungai. Begitu pula dengan berbagai jenis burung.
Sampai saat ini program bernama “Thames River Clean Up” atau “Pembersihan Sungai Thames” masih dilaksanakan. Tujuannya untuk meningkatkan kebersihan sungai dan mencegah pencemaran. Tenaga relawan, terutama masyarakat sekitar secara sukarela dan senang hati turut serta membersihkan sungai yang mereka cintai.
Pengalaman London di masa lalu mungkin sama dengan apa yang sedang dialami oleh beberapa kota besar di Indonesia. Kondisi dimasa lalu sedikit sama dengan sungai Ciliwung yang membelah kota Jakarta. Sungai ini sedang menderita sakit kronis akibat pencemaran limbah industri dan rumah tangga. Sudah saatnya kita mencoba untuk mengembalikan keberagaman ikan-ikan dan makhluk air lain yang dulu hidup di aliran sungai tersebut.


seandainya masyarakat dan pemerintah Indonesia bisa bekerja sama dalam membersihkan sungai dan kali yang ada pasti negara kita juga bisa berubah.